Sabtu, 13 September 2014

Beginilah Hidup

Pagi-Pagi sekali aku bangun. Ya tepatnya jam 12 pagi. Lha kok jam 12 pagi, eh ternyata jamku rusak. Aku pun langsung pergi ke kamar mandi, dan memanggil tukang ojek. Iya..karena jarak kamar mandi dengan kamarku lumayan jauh, maklumlah rumah aku tuh luas banget. Cara ngitung luas rumahku aja harus pake rumus kalkulus fisika dasar. Makanya aku males ngitungnya.
Setelah selesai mandi, aku siap-siap berangkat sekolah. Seperti menyiapkan buku, pulpen, pacul, stik drum, benang gelasan, pompa ban, blueband dan lain-lain. Setelah semuanya siap, aku siap, naruto siap, goku siap, jkt48 pun juga siap, kamipun segera menyerbu benteng takeshi. Eh maksudku berangkat sekolah.

"mah aku berangkat dulu ya mah" pamitku pama mama yang sedang mecah-mecahin meteor.
"iya..hati-hati ya.. jangan lupa nanti pesawat jetnya dikunci stang" katanya.
"aku pergi ya ma, jaga ayah,adek, juga rumah ini. pokoknya jangan khawatirin aku ma" kataku sambil mencium tangannya.

akupun berangkat, melangkah dengan iringan lagu perpisahan yang cukup sedih, seperti di sinetron. Di perjalanan aku ketemu anoa, ah ternyata dia temanku si joni dia memang mirip anoa, bahkan anoa aslinya kalah mirip sama dia. Akhirnya kami berangkat bersama, setelah sempat diiring warga kampung, seperti orang yang hendak berangkat haji. Kami telah sampai di sekolah. kami masuk dengan cara meledakkan pintu gerbang. Biar keliatan keren, dengan keluar dari tengah-tengah kepulan asap. seperti bima satria garuda yang habis ngalahin siluman semut rang-rang.
Semua mata menatap kami. Ekspresi mereka beda-beda. Ada yang bengong sambil ngelamun, ada yang ngeliatin sambil merem, bahkan ada yang ngeliatin sambil muntah-muntah, mungkin karena melihat wajah si joni.

Bel masuk sudah berbunyi. Guru sejarahpun masuk. Tapi si joni, dia masih bengong ngeliatin logo osis punya si budi. entah maksudnya apa. Guru sejarah memperintahkan untuk membaca, tentang Orde Baru. Aku membolak-balik bukuku, namun tidak menemukan materi tentang orde baru. Yang kutemukan justru surat yunus ayat 40-41. Ah..ternyata ini buku PAI bukan buku sejarah.
Saat pelajaran tengah berlangsung, eh jangan tengah deh udah biasa, saat pelajaran pinggir berlangsung tiba-tiba datang....

*bersambung*

kira-kira apa atau siapa yang datang, nantikan kelanjutannya.

Senin, 01 September 2014

Besok Senin = kesurupan

Halloe teman-temane semuanye, apa kabare, harie inie..haiikk.. *kibas-kibas samurai*
gw yang ganteng dan lumayan terkenal (dikalangan tukang ojek) ini akan posting lebih intensif. *yaelah bahasanya*

Seminggu kemaren, di kota gw, (kota batik) di alun-alun kajen tepatnya. Ada yang namanya expo, tau expo kan, itu lho yang buat keramas. *itu shampo, okesip* dan gue sempet kesana dua kali. Di hari kedua dan hari terakhir (penutupan). Expo ini untuk memperingati hari jadi pekalongan. Entah yang keberapa, gue lupa. Hehe..cari tau sendiri aja.
Hari terakhir expo itu tepatnya kemaren, hari minggu 31 agustus. Iya hari minggu malem senin. Gue mikir, besok kan hari senin. Daripada hari minggu gue terbuang sia-sia akhirnya gue memutuskan bahwa hari ini gue akan pergi kesana. Gw pergi sama temen gw, cowok lebih tepatnya. Oke, lo jangan mikir macem", FYI aja sehari sebelumnya, pas malem minggu tepatnya gw ngajakin seorang cewek, tapi dianya nolak dengan hormat. Iya sambil hormat.
Jadi gue memutuskan pergi di malem senin aja pas penutupan, sekalian nunggu siapa tau gw bisa dapet doorprize. Iya doorprize, gw udah punya kira-kira ada 10 kupon. Tapi kampret..gw udah nunggu lama" gak dapet" anjirr. Akhirnya gue cuma muter" di bazar buku. Dan terbelilah 4 buku, ya lumayan murah" karena penjualnya gue ancem pake golok *yang ini bo'ong ding*
Gue pulang jam 11 malem yang dingin, sepi, dan gelap *ya iyalah namanya juga malem* gw sendirian karena gw sama temen gw tinggal di desa yg berbeda. Alhasil gw yang ganteng ini pulang sendirian menembus malam dengan cool, dengan hati gedeg kagak dapet doorprize. Sakitnya tuh disini. *pegang kulit duren, terus kesakitan*

Esok harinya...
Gw berangkat sekolah dengan sedikit rasa kantuk, tapi bukan kantuk berdahak. Tapi tetep aja gw yang ganteng ini tetep mempesona. Yak silahkan yang mau muntah, gw udah muntah duluan kok.
Entah ada apa, apa karena ini hari senin. Yang katanya hari setelah minggu. Setelah upacara, mendadak banyak siswi yang kesurupan. Gw sebagai laki-laki sejati dgn sigap menenangkan mereka dengan tatapan gw yang cool. Saat gw tatap, ekspresi mereka beda" ada yang gelisah (geli-geli basah) bahkan ada yg mau muntah.
Ada (lumayan) banyak siswi yang kesurupan. Alhasil kegiatan belajar mengajar agak terganggu. *dalem hati teriak kegirangan*

Jadi intinya, jaga kesehatan badan kalian, jaga kesehatan mental kalian juga, jangan kebanyakan melamun. Nanti dimasuki yang kayak begituan gimana ?

Oke kalo gitu, gw mau pamit undur undur. Eh salah...undur diri.

Selasa, 18 Februari 2014

Tertabrak Cinta Vena

Hujan selalu turun tiba-tiba. Padahal baru beberapa meter gue  keluar dari gerbang sekolah. Sekarang memang sedang musimnya air turun berombongan dari atas langit. Tapi anehnya gue tetap saja gak bawa jas hujan. Tak peduli musim hujan. Toh..kalo ujan-ujanan juga kadang enak. Rasanya hidup ini kayak gak ada beban gitu kalo ujan-ujanan, sejuk, segar, aroma hujanpun sangat menggoda. Tapi setelah itu tubuh gue jadi kedinginan, kepala juga pusing, fuck..dan akhirnya gue sakit gara-gara ujan-ujanan.

Pernah waktu itu pas pulang sekolah dan kebetulan waktu itu juga turun hujan. Tampa pikir panjang gue pacu motor bebek gue  begitu kencang. Dak akhirnya tepat di per-tigaan depan masjid di dekat pasar. *Tiiiiinnnnn...ssssiiiittt* Sebuah angkutan umum dari arah selatan hampir saja aku menabraknya. Untung saja aku sigap. Langsung ku belokkan motorku ke pinggir jalan sampai menabrak pohon pisang.

"wooi...kalo naik motor hati-hati dong...jangan ugal-ugal gitu" bentak supir yg berlalu begitu saja sambil melototiku yang jatuh tersungkur.

Shit...bukannya nolongin itu supir malah pergi, marah-marahin gue lagi. Gue ingat betul muka itu supir plat nomor mobilnya juga. ya siapa tau tangan gue patah, tinggal gue laporin deh tuh. Hahaha pinter kan gue..

***

Hari ini cuaca cerah, rencananya sebelum pulang kerumah gue mau mampir ke toko buku sebentar. Sambil menahan sakit karena jatuh kemarin. Gue pacu motor gue ini dengan pelan. Toko buku itu terletak di depan pasar. Letaknya gak jauh dari sekolah gue, ya..3 menit juga udah sampe. Gue parkirkan motor gue , perlahan gue berjalan ke toko buku. Angin berhembus pelan mengibas rambut gue. Beeeh...berasa ganteng banget gue. Perlahan gue dorong itu pintu. eh gak bisa kebuka, taunya itu pintu ada tulisannya "tarik". Yaah...gagal keren gue gara-gara pintu.

Gue mulai mencari buku yang mau gue beli. Sedang sibuk mencari, tak sengaja aku menabrak seseorang. *bbuukk* bukunya jatuh. Gue reflek langsung bantuin ngambil itu buku. Romantis banget men...tapi fuck men yang gue tabrak ini cowok. Gue pun kaget langsung gue tinggalin itu orang. Seiring gue pergi matanya kedip-kedipin gue gitu. Anjis...pengen muntah gue.

Kembali gue nyari lagi itu buku. Nah akhirnya ketemu juga. Bersamaan dengan seseorang. Gue megang itu buku. *tapi kali ini cewek men*

"Eh...kamu mau beli buku ini juga" tanyaku padanya.
"hmmm..iya..tapi ini..lagi pula kamu duluan kan yang ngambil" jawabnya dengan lembut.

"gak apa-apa ini buat kamu. Lagi pula masih banyak itu di rak"
"oh iya..."
"eh kamu anak kelas X.3 kan ?" m
Tanyaku..karena aku pernah melihat gadis ini.
"iya..kamu kok tau"
"tau dong..kita kan satu sekolahan"

Kini aku tau, gadis manis itu bernama Vena. Vena ini sangat asik diajak ngobrol. Baru saja bertemu kami sudah sangat akrab.

***

Seorang gadis cantik duduk di depan gerbang, dengan wajah tak sabar. Mungkin ia sedang menunggu jemput-an.

"ven...kok belum pulang ? Masih nungguin jemput-an ya? " sapaku padanya.
"eh, kamu...iya nih. Lama banget."

Dalem hati gue berkata. Wah kesempatan gue nih biar lebih deket sama dia. Gue anterin pulang ah.

"mas...kok bengong? " tanya vena sambil mengayunkan tangannya di depan wajahku yang sedari tadi senyum-senyum sendiri.

"eh..enggak kok, nggak apa-apa. Kamu mau aku anterin pulang? "

"hmm, ntar ngrepotin kamu lagi"

"yaa..nggak akan lah..buat gadis semanis kamu, apa sih yang nggak"

"hehe..dasar gombal. Ya udah deh ayuk"

Aku pun mengantarnya pulang. Aku disuruh mampir dulu dirumahnya.
"mau minum apa mas ?" tanyanya padaku.

"hmm, apa aja deh. Asal yang bikin kamu pasti enak"

"hehehe..iya bentar ya tak bikinin"

Tak lama kemudian, datang sebuah mobil angkutan. Dan parkir di depan rumahnya.
"kayaknya gue pernah liat ini mobil dimana ya"

Kemudian keluarlah seseorang dari mobil tersebut. Wajahnya tak asing bagiku.

"assalamualaikum" orang itu masuk ke dalam.

"waalaikumsalam" kaget gue..ternyata dia orang yang waktu itu mau nabrak gue.

"lho...bapak kok ada disini"

"harusnya saya yang tanya kamu ngapain ada disini. Ini rumah saya"

"lho..bapak kenal sama mas wahyu?" tanya vena sambil membawa minuman.

Akhirnya kami duduk bersama. Dan aku menceritakan kejadian waktu itu pada vena. Dia hanya tertawa. Akupun minta maaf pada sopir itu yang ternyata bapaknya. Dan terciptalah sebuah kehangatan diruang tamu.

Kebetulan-kebetulan itulah yang menumbuhkan benih-benih cintaku pada vena. Dan kini aku dan vena sudah menjalin hubungan yang bisa dibilang sangat awet. Kini kami berdua sudah kelas XI dan kami juga berada dalam satu kelas.

©2014

Selasa, 04 Februari 2014

Untukmu NA

Selamat sore..NA

Sore ini kutinggalkan sepucuk surat di jendela kamarmu. Mungkin kau heran dengan apa yang sedang kau baca. Karena tak biasanya aku menulis sebuah surat untukmu.
Aku harap bibir manismu tersenyum saat kau baca aksara yang kurajutkan untukmu di surat ini. Aku hanya ingin memerahkan pipimu dengan pasukan kata-kataku.
NA, masihkah kau ingat desir ombak itu ?. Tempat dimana kau dan aku mengukur dalamnya laut dengan peluk kita. Bersama nyiur daun kelapa yang seolah tak ingin di abaikan. Na, aku tak akan lupa itu, bibir merah yang memaksaku melupakan akan adanya gravitasi. Melayang aku dibuatnya. Indah tubuhmu membuat ludahku terasa manis sehingga aku tak berhenti menelannya saat kubayangkan itu. NA, mungkin terkadang kau menyebutku seorang yang tak peduli, seorang yang sangat acuh. Percayalah NA kau tak sedetikpun hilang dalam pikiranku. NA, maafkan aku jikalau aku membuat mendung dimatamu. Aku mencintaimu NA.

Aku akan mencintaimu lebih banyak dari hujan yang diteteskan langit pada bumi, lebih sejuk dari embun yang dicumbui pagi, lebih hangat dari secangkir kopi. Dan lebih lama dari selamanya.

I LOVE YOU...NA
dari aku, kekasih yang teracuni rindu.

Minggu, 12 Januari 2014

Kamu (part 1)

Asap putih masih saja mengepul. Jarum jam menunjukan pukul 02:39 dini hari. Anak itu masih saja disitu duduk di balkon rumahnya. Mulutnya piawai memainkan asap rokok. Nikmati angin sambil memasukan nikotin ke dalam paru paru-nya. Semalam suntuk ia duduk disitu. Tak peduli dingin angin malam yang menusuk kulit. Anak itu masih terpukul karena kematian kekasihnya beberapa waktu lalu. Ia tak bisa lepas dari khayalan bernama kenangan. Yang selalu muncul dalam otaknya. Sebuah kenangan yang terbingkai sebuah senyum. Sebuah senyum yang tak 'kan terlupa. Ia begitu sulit memahami hidup ini, seakan tak bisa menerima kenyataan yang terjadi. Kenapa seorang yang sangat disayanginya itu harus pergi lebih dulu.

***

Langit yang basah di suatu senja mampu menenangkan kota yang penuh hiruk pikuk ini. Hawa dingin membuat orang-orang enggan keluar rumah. Juga rintik air yang masih menetes dengan deras.

Di sudut sebuah cafe diperempatan jalan itu. Timbul sebuah kehangatan dari sepasang kekasih yang sedang duduk mengobrol sambil menikmati coklat panas. Mereka bercengkrama sambil menunggu hujan reda.

"hujannya awet juga ya..dari tadi gak berhenti-berhenti.." kata seorang lelaki yang diketahui bernama Riki itu.

"iya..tapi bagus dong..aku jadi bisa lebih lama sama kamu. Hehe" jawab wanitanya sambil tersenyum

"hehe..iya bener...eh tapi muka kamu koq pucet gitu ya ? Kamu sakit ?"

"hmm...nggak koq"

"hmm...dingin ya ? Itu diminum lagi coklat panasnya..biar hangat."

"iya...tapi ini hangatnya tak sehangat pelukmu sayang."

"hehe...iya tentu itu..kamu ini bisa aja, nanti aja ya...ini kan di cafe"

"yee...ke-ge'er-an banget ya..siapa yang minta dipeluk ? Hehe"

"hehehe...aduh-aduh.."

"iya-iya deh...eh nanti pas pulang kita mampir ke apotek ya."

"kenapa ? Siapa yang sakit ?"

"hmm...itu aku disuruh ibuku beli obat, tadi dia sms aku"

"hmm...iya"

Hujan mulai reda, sepasang kekasih itupun pulang bersama. Menembus dinginnya senja, aroma sehabis hujan mengiringi mereka. Sehabis membeli obat. Riki mengantarkan pulang kekasihnya itu.

"kamu nggak mau mampir dulu ?"
Tanya perempuan yang ternyata bernama Rini itu.

"hmm, maaf kayaknya aku langsung pulang ya..salam aja buat ibu sama bapak"

"hmm..iya deh..hati-hati di jalan ya sayang"

Senyum manis mengiringi kepergiannya. Rini masih berdiri di depan rumah sampai Riki jauh tak terlihat ditelan tikungan.

Besambung...