Asap putih masih saja mengepul. Jarum jam menunjukan pukul 02:39 dini hari. Anak itu masih saja disitu duduk di balkon rumahnya. Mulutnya piawai memainkan asap rokok. Nikmati angin sambil memasukan nikotin ke dalam paru paru-nya. Semalam suntuk ia duduk disitu. Tak peduli dingin angin malam yang menusuk kulit. Anak itu masih terpukul karena kematian kekasihnya beberapa waktu lalu. Ia tak bisa lepas dari khayalan bernama kenangan. Yang selalu muncul dalam otaknya. Sebuah kenangan yang terbingkai sebuah senyum. Sebuah senyum yang tak 'kan terlupa. Ia begitu sulit memahami hidup ini, seakan tak bisa menerima kenyataan yang terjadi. Kenapa seorang yang sangat disayanginya itu harus pergi lebih dulu.
***
Langit yang basah di suatu senja mampu menenangkan kota yang penuh hiruk pikuk ini. Hawa dingin membuat orang-orang enggan keluar rumah. Juga rintik air yang masih menetes dengan deras.
Di sudut sebuah cafe diperempatan jalan itu. Timbul sebuah kehangatan dari sepasang kekasih yang sedang duduk mengobrol sambil menikmati coklat panas. Mereka bercengkrama sambil menunggu hujan reda.
"hujannya awet juga ya..dari tadi gak berhenti-berhenti.." kata seorang lelaki yang diketahui bernama Riki itu.
"iya..tapi bagus dong..aku jadi bisa lebih lama sama kamu. Hehe" jawab wanitanya sambil tersenyum
"hehe..iya bener...eh tapi muka kamu koq pucet gitu ya ? Kamu sakit ?"
"hmm...nggak koq"
"hmm...dingin ya ? Itu diminum lagi coklat panasnya..biar hangat."
"iya...tapi ini hangatnya tak sehangat pelukmu sayang."
"hehe...iya tentu itu..kamu ini bisa aja, nanti aja ya...ini kan di cafe"
"yee...ke-ge'er-an banget ya..siapa yang minta dipeluk ? Hehe"
"hehehe...aduh-aduh.."
"iya-iya deh...eh nanti pas pulang kita mampir ke apotek ya."
"kenapa ? Siapa yang sakit ?"
"hmm...itu aku disuruh ibuku beli obat, tadi dia sms aku"
"hmm...iya"
Hujan mulai reda, sepasang kekasih itupun pulang bersama. Menembus dinginnya senja, aroma sehabis hujan mengiringi mereka. Sehabis membeli obat. Riki mengantarkan pulang kekasihnya itu.
"kamu nggak mau mampir dulu ?"
Tanya perempuan yang ternyata bernama Rini itu.
"hmm, maaf kayaknya aku langsung pulang ya..salam aja buat ibu sama bapak"
"hmm..iya deh..hati-hati di jalan ya sayang"
Senyum manis mengiringi kepergiannya. Rini masih berdiri di depan rumah sampai Riki jauh tak terlihat ditelan tikungan.
Besambung...

0 komentar:
Posting Komentar