Selasa, 31 Desember 2013

Tampa Makna

Aroma itu tercium lagi. Bau darah, anyir bercampur  sepi. Mayat-mayat itu bergeletakan, berserakan bagai daun yang gugur dari sebuah pohon. Mereka adalah prajurit, prajurit yang gugur. Gugur melawan waktu. Tak mampu membunuh waktu.
Jantung-jantung mereka sudah tercabik-cabik oleh burung gagak. Yang tertarik akan bau busuk, bau anyir bangkai-bangkai prajurit. Burung-burung gagak itu berdiri diatas mayat-mayat. Terlihat dari kejauhan, seperti sebuah semak berwarna hitam yang bergoyang-goyang. Malam datang, sepi tambah kencang mengikat mayat-mayat itu. Angin menari diatasnya seraya menyebarkan aroma anyir kemana yang dia inginkan.

Aku terbangun dari tidurku. Hari ini tak ada yang berbeda, biasa saja. Walau angka tahun di kalender itu berganti. Apa ini ? Apa maksud mimpi itu ? Apa aku kalah oleh waktu ?
Kusesap kopi di suasana yang senyap, bukan dalam lelap, yang gelap. Masih kuingat semalam, aku melakukan pesta kecil bersama sepi, gundah, resah dan gelisah menyetubuhiku bersamaan. Mereka sangat setia, terlebih lagi sepi, dia selalu hadir dengan sejuta rasa pening yang terkadang menghilangkan keseimbangan.

Tak habis pikir, aku justru merasakan kekecewaan, sebuah kekosongan yang tak akan pernah kau sadari. Kau sudah terhipnotis cahaya, sebuah cahaya warna warni yang meledak-ledak. Entah, kenapa aku ? Ini bukan salahmu, ini hanya hati yang hampir mati. Karena engkau tak memberinya sebuah rasa. Sebuah rasa yang merubah segalanya. Busuk menjadi segar. Anyir menjadi harum. Hitam pekat menjadi terang.

Sudahlah, biarkan itu tetap berbunga didalam fikiranku. Walau disana mendung. Mendung yang tak ada habisnya. Biarkan hujan menyiraminya

Tawamu, itu alasan kenapa aku tersenyum disaat fantasi-fantasi aneh menggrayangiku. Tak peduli peluru menembus kepalaku dari segala penjuru. Yang terpenting adalah Bahagiamu.

Dari Untaian Angkasa Kata yang Hampa

03:52 01/01/2014

0 komentar:

Posting Komentar